Pagi ini sang surya hadir dengan sinarnya yang hangat, menuntun pada makna kebahagiaan yang terkadang sulit menempuh jalan menuju bahagiaan itu sendiri. Nyatanya, dengan menikmati sentuhan hangat mentari membuat hati ikut tentram. Bukankah kehangatan juga salah satu yang membuat kita bahagia?

Ya, buatku sesederhana itulah makna bahagia. Namun, seringnya kita salah kaprah dengan memaknai kebahagiaan. Banyak yang berasumsi bahagia itu saat memiliki penghasilan tinggi, memiliki mobil mewah, memiliki rumah besar, memiliki pasangan sempurna, dan standar-standar tinggi lainnya yang membuat kita lupa bahwa itu semua bisa menjadi sekedar fantasi.

Hayalan yang membuat kita menutup mata pada hal-hal penting yang ada disekitar. Bahwa kita bisa bahagia hanya dengan saling bercengkrama dengan riang bersama keluarga. Kita bisa bahagia dengan menikmati udara pagi yang sejuk. Atau kita akan sangat bahagia saat mendapat vocher makan gratis di restoran favorite.

Benarkah bahagia sesederhana itu? Siapa tahu mungkin bahagia itu memang tidak muluk-muluk dan tidak rumit seperti pikiran manusia. Bahagia yang sering kita sebut bahagia ”receh” itu bisa jadi bahagia yang selama ini kita cari. Hanya saja kita terlalu termakan ego dan emosi bahwa itu bukan apa-apa, hanya sekedar selingan dalam menghibur hati yang lara.

Jalan Menuju Kebahagiaan Ala Seneca

Ducunt Volentem Fata, Nolentem Trahunt

Jika kau izinkan, takdir/hidup akan membimbingmu. Jika pun tidak, takdir/hidup akan memaksamu tunduk.

Oleh Seneca

Tentang Filsuf Seneca

Berbicara soal bahagia, sejak berabad-abad lamanya para filsuf telah memikirkan berbagai cara menemukan jalan menuju bahagia. Salah satunya adalah Filsuf bernama Seneca.

Seneca adalah seorang anak dari tuan tanah di Cordoba yang lahir pada tahun ke-4 SM. Dalam karirnya merupakan seorang bankir, politikus dan penasehat utama kaisar Nero sejak diangkat menjadi kaisar pada usia tujuh belas tahun di abad ke-54M. Di tahun ke-14M Seneca mulai serius belajar filsafat dan di tahun ke-19M berjanji menjadi seorang STOA.

Seneca menciptakan konsep baru dengan menulis untuk kaum jelata Romawi di zamannya. Berbeda dengan filsuf lainnya yang khusus untuk kalangan pendidik. Walau begitu, hal tersebut membuatnya menjadi terkenal. Bahkan Seneca menulis dengan kalimat pendek, sehingga memiliki efek kuat dalam menggerakan hati pembacanya.

Selain itu ciri khas dari Seneka adalah menulis dengan bahsa Latin. Sedangkan kebanyakan filsuf STOA lainnya menggunakan bahasa Yunani. Dengan mengadaptasi banyak pengertian dari Yunani ke Latin Seneca telah mencetuskan sebuah trend baru.

Dalam ajaran Seneca terkenal dengan istilah STOIKISME atau terkenal juga dengan sebutan STOA. Di mana ajaran ini melibatkan diri sendiri dalam memaknai kebahagiaan. Hal tersebut karena kaum STOA membedakan antara sensasi dan emosi.

  • Sensasi Bersifat alamiah, tidak terhindarkan dan ada di luar kuasa diri sendiri. Contohnya: rasa dingin menggigil, demam, lapar, kaget, berkedip mata dan lainnya.
  • Emosi bersifat rasional, dapat kita pahami dan kendalikan. Serta berada dalam kuasa diri. Contohnya: Marah-marah, sakit hati, obsesi, cemas, sedih dan lainnya.

Program STOA

Invulnerabile est non quod non feritur; sed quod non laeditur.

Yang tak terhancurkan itu bukanlah yang tidak terkena hantam; tetapi justru yang dihantam terus menerus, tetapi hantaman itu tak menyakitkannya.

Oleh Seneca

Dalam ajaran STOA ala Seneca terdapat tiga program yang menuju pada jalan kebahagiaan. Diantaranya:

Hal yang Tidak Tergantung Pada Diri Kita

Kematian, kekayaan, penderitaan. Disebut juga sebagai fortuna, saat datang happy saat hilang runtuh. Hal-hal ini tidak bisa kita hindari, sehingga harus berani menerimanya karena memang berada di luar kendali manusia. Oleh sebab itu jalan menuju bahagia tidak dapat kita tempuh dengan poin ini.

Kendalikan yang Tergantung

Pemahaman, emosi, logika. Di sebut virtus keutamaan. Kita harus bisa membedakaan sensasi dan emosi. Konsepnya adalah mengendalikan emosi dengan mengalihkannya. Konsep inilah yang nantinya akan menuntun pada kebahagiaan itu sendiri, karena di sini kita bisa mengutak-atik layaknya komputer. Hal-hal yang bahkan bisa kendalikan.

Berlatih (Exercise)

Di sini kita harus bisa memilih dan memilah mana yang termasuk poin 1 dan poin 2. Dengan seringnya berlatih maka dengan sendirinya kita bisa menentukan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dan hal yang mampu kita kendalikan. Latihan STOA ini disebut juga sebagai ASKESIS, yaitu dengan memilih dan menyelidiki:

  • Hal yang merupakan muatan nilai (opini).
  • Hal yang merupakan fakta.

Dari ajaran seneka ini ada satu garis besar yang bisa kita lakukan yaitu bagaimana caranya mengendalikan emosi dengan mengalihkannya kepada fokus yang harus dilakukan dalam konteks positif.

Ibarat air yang mengalir deras maka alihkan dengan membangun bendungan, saluran irigasi atau sodetan.

Baca Juga: Sebuah Pelarian Menikmati Hijaunya Bumi yang Semakin Tak Bersisa

Kendalikan Emosi untuk Menuju Jalan Kebahagiaan

jalan menuju kebahagiaan

Tahun ini dunia dilanda kekhawatiran karena Virus Korona. Semakin hari kasus semakin menanjak. Berpergian menjadi enggan karena takut tertular virus mematikan ini. Segala aktivitas dikerjakan dari rumah. Seperti bekerja, sekolah hingga bersilaturahmi.

Stres? Ya! Dari makhluk yang tidak terlihat, aktivitas kehidupan berubah 360 derajat. Akan tetapi haruskah kita berkubang dalam kekhawatiran yang tidak berujung? Tentu saja, tidak, bukan? Kita bisa tetap produktif dalam kondisi apa pun, termasuk dalam menjalani keseharian dengan penuh kebahagiaan.

Menilik ajaran Seneka, kita harus mampu mengalihkan rasa khawatir menjadi emosi yang positif. Di tengah situasi pandemic seperti sekarang, kita masih bisa berpergian dengan catatan tetap mematuhi protocol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak dan rajin cuci tangan. Sejatinya pandemi bukan alasan untuk membuat hidup menjadi tidak bermakna karena saat kesulitan menyapa selalu ada solusinya.

Kasus lain adalah saat hati terluka. Entah karena putus cinta, kalah dalam pertandingan atau di tinggal pergi selamanya oleh orang yang kita cintai. Sedih, marah, kesal, kecewa pasti menghampiri. Merasakan emosi tersebut adalah wajar karena terjadi secara alami. Namun, meratapi kesedihan yang tidak berujung bukanlah pilihannya.

Alihkan emosi tersebut, menjadi emosi yang positif untuk bangkit dan menjalani hidup seperti sedia kala. Dengan begitu bisa mengetahui, mana yang harus perbaiki dan mana yang perlu kita lepas.

Kita tidak harus membebani diri dengan sesuatu yang rumit, tetapi kita bisa melakukan hal sederhana yang paling disukai. Hal yang akan membuat kita mampu menemukan jalan menuju kebahagiaan

Seneka dengan ilmu STOA di atas mengajarkan kita untuk bisa memilih prioritas penting dalam hidup. Memudahkan dalam memilih suatu hal hingga berujung pada kebahagiaan. Ya, setidaknya dalam setiap langkah kita tidak ada beban berat yang menunggangi hati.

Bahagia itu sederhana saat kita tidak terlalu banyak berpikir.

Jejak :
Webinar Philosopy Underground
Kota Industri, Cikarang pagi yang hangat di bulan Nopember, ketika hujan mulai sering menyapa di sore hari.

8 Replies to “Jalan Menuju Kebahagiaan Ala Filsuf Seneca dengan STOA”

  1. duh mbak, baru baca prolognya udah ikutan tentram hatiku. adem banget sungguh, apalagi kalau memang menerapkan prinsip bahagia ala filsuf Seneca ya. aku masih berlatih buat mengontrol emosi dan belajar buat selalu positive thinking, peluk jauh mbak Erin. Terima kasih sudah mengingatkan aku untuk menjemput kebahagiaan 🙂

    1. Sama-sama, Mba. Sama aku juga sedang belajar untuk bisa mengendalikan emosi dan untunglah ikutan Webinar dari Philosopy Underground ini. Program dari Seneca ini hal yang bisa kita lakukan saat ini. Semoga bermanfaat ya, Mba.

  2. Mengendalikan emosi memang bukan hal yang mudah buatku, selalu terpuruk dan sulit untuk menemukan jalan kebahagiaan.
    Terimakasih mbak, untuk tulisannya. Sangat menginspirasi, semoga aku bisa mengalihkan emosi jadi emosi yang positif 🙂

  3. benar banget ya Mbak, bahagia itu bisa sangat sederhana jika kita tidak berpikir yang berat-berat.
    karena semua berasal dari pikiran ya.
    kalau kita mikirnya mudah ya pasti bakalan jadi mudah, begitu pula sebaliknya ya 🙂

  4. Bener banget, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada harta atau tahta karena jika hal tersebut hilang, berarti kebahagiaan kita juga hilang. Intinya kita diminta memikirkan kehidupan yang lebih abadi ya mba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *